" /> The New Normal, Cara Kita Untuk Tetap Normal - SUCI BYT );

Baru saja Ramadhan berlalu. Lebaran datang dan kita melalui hari lebaran yang biasanya menjadi momen kumpul keluarga dengan hanya di rumah sambil memandang layar HP masing-masing sebagai pengganti peluk dan jabat tangan yang tidak tersampaikan. Ada yang bersedih, ada yang hanya pasrah, ada yang menganggap keadaan seperti ini hanya sebagai bentuk naik-turun dalam hidup.

Lebaran kali ini bukan lebaran pertama saya berada jauh dari orang tua tapi lebaran kali ini terasa berbeda bukan hanya karena kita yang tidak memiliki kesempatan untuk mencium tangan mereka berdua di hari hangat yang terasa penuh kegembiraan dan rasa syukur itu. Saya, kita dan ribuan orang lain di luar sana sedang sedikit bersedih mungkin beberapa hari belakangan ini karena untuk berkumpul dengan keluarga di hari lebaran benar-benar sedang tidak memungkinkan karena ‘ius ona’ (this is how my niece say the name of this pandemic) dan kebijakan PSBB dan lainnya.

Baca juga:

Gara-gara Mr. Ron

Yang Perlu Kamu Tau Tentang Ritual dan Rutinitas

 

Bicara soal PSBB atau MCO, atau lockdown dan segala nama lainnya, hari ini adalah hari ke-69 saya hanya punya rute beberapa meter untuk mondar-mandir kasur-toilet-dapur. Maka dengan segala perubahan yang sadar tidak sadar sedang terjadi dalam kebiasaan dan pola hidup selama di rumah aja, yang disebut-sebut sebagai ‘the new normal’ itu, suka tidak suka berada di rumah aja selama dua bulan lebih membuat beberapa sisi memudar dan menyuburkan sisi lain dari seorang manusia. Well, setidaknya untuk saya sendiri. Atau untuk teman sekamar yang menjadi lawan berdialog saya nyaris 24/7.

Menulis tulisan ini diawali dengan kesadaran saya bahwa ternyata level kemalasan kami meningkat semenjak pertama kali keharusan berdiam di rumah diumumkan oleh PM Malaysia. Jika biasanya untuk minum air putih kami rela sedikit berjalan untuk mendekati galon, maka bisa dibayangkan kemalasan seperti apa yang sedang terjadi ketika galonnya ditarik untuk lebih dekat ke kasur atau meja kerja tempat kami tekun menjalani WFH. Atau ketika kami yang biasa grocery shopping setiap minggu sekarang lebih memilih untuk belanja kebutuhan dapur sekali dua minggu dengan bahan-bahan yang sangat mudah diolah dan get them ready segera biar nanti setiap masak, kami hanya perlu mengambil bahan-bahan ini dari food container yang sudah disusun rapi dalam kulkas. To me, ini adalah the new kind of lazy meskipun get things done like this membuat kebiasaan lama kalah efektif.

Terlepas dari persoalan kemalasan yang seolah terpupuk subur akibat #dirumahaja berminggu-minggu ini, jelas banyak hal lain yang baik-baik yang ikut tumbuh subur. Seperti kemampuan memasak, cara berhemat, bagaimana menyadari dan menganalisa suatu persoalan lalu belajar mengatur cara kita menghadapinya, cara menyayangi keluarga dan teman-teman dekat, dan banyak hal lainnya.

Nah bicara soal perubahan, bicara soal kebiasaan baru, bicara soal the new normal, apapun itu yang kita lakukan atau tidak, all is fine selama kamu nyaman and feeling good karena kita sudah berjuang dan bertahan sejauh ini di masa-masa kritikal  bagi semua orang.  

Jadi jangan lupa bahagia. Karena seperti kisah God’s Fool-nya Kahlil Gibran dalam The Forerunner, bahagia itu benar adalah persoalan perspektif. Mau di rumah aja atau kemana-mana, mau semakin malas atau semakin banyak keahlian, mau bertambah ‘lebar’ atau semakin shaped, tetaplah bahagia!

 

 

Baca Juga:

Secuil Narasi Tentang Bahagia

Rumah dan Sebuah Kata Pulang