" /> Pengandaian – #loveletterseries | eps.3 - SUCI BYT );

 

Jika saja setiap puisi diawali dengan pengandaian seperti di saat bulan berbicara, pohon menari atau hujan yang berbisik, aku juga ingin berandai. Andai kamu ada di sini.

Sore itu hujan lebat bahkan tak ada lagi gedung yang dapat dilihat dari jendela kamarku saat ini. Semua putih dan menampakkan kilat kadang-kadang. Aku tengah membaca buku di kasurku, dengan sesekali mencuri pandangan ke jendela untuk memastikan jika hujan lebat ini berhenti. Kopi panas tanpa gula masih mengepul di meja sebelah kasurku ditemani telepon genggam tanpa notifikasi. 

Aku tertawa kecil, kembali memikirkan kamu pasti sudah merangkai kata dari situasi ini. Hujan, kopi panas, buku, apa lagi yang kurang? Sayang aku tidak sepuitis itu. Tanpa pikir panjang aku bangkit ke arah meja seberang kasur di kamarku. Aku ambil buku dan pulpen dari sana dan kembali ke kasur sebelah kiri. Aku membuka lembaran yang belum terisi dan mencoba berpikir, andai aku adalah kamu apa yang akan kamu tulis? 

Kuketuk-ketuk ujung pulpen ke ujung kanan bawah buku sambil melirikkan bola mataku ke arah atas tanpa melihat apa-apa, aku buntu. Coba kuulangi lagi, jika, saja setiap puisi diawali dengan pengandaian apa yang harus kutulis? 

Sayang, andai hujan ini dapat dihitung. 

Kuyakin jumlahnya lebih sedikit dari rinduku padamu. 

 

Baca juga:

Dua Nenek Dan Sungai Danube

Like Never Before


Lalu kembali aku buntu dan sedikit malu. “Cheesy banget,” ucapku pada diri sendiri. Kucoba ingat-ingat lagi puisimu yang pernah kau tulis, kau bacakan atau tanpa setahumu aku baca sendiri. Aku tak benar-benar ingat seperti apa baitnya, yang aku ingat adalah perasaannya. Pernah aku bertanya kenapa kamu menulis begitu banyak puisi atau narasi. “Kamu belum mencintai pasanganmu jika kamu belum pernah menulis tentangnya,” jawabmu singkat. Aku merasa terpojok karena seakan kau meminta pembuktian cintaku yang belum pernah menulis apapun tentang dirimu.

“Tak apa, kamu bukan penulis tak perlu memaksakan. Dari matamu saja aku tahu betapa kamu mencintaiku,” jawabmu singkat saat melihat ekspresi kakuku. Kamu terlalu tahu aku. Kau selalu tahu cara menenangkanku. 

Kembali fokusku kepada bukuku dan dua bait kacangan yang mungkin sudah ribuan orang gunakan. Semakin lama aku berpikir, semakin banyak aku mengingat, semakin berat aku merasa. Mukaku mungkin sudah lebih merah dari lima menit yang lalu, dadaku sedikit lebih berat, hidungku mulai tak bernapas seperti biasanya.

Aku mulai terisak, aku tidak suka saat aku terisak. Aku remas bukuku agar setidaknya aku mendapat sedikit kekuatan untuk menghentikan isakan. Aku lepas kendali, air mataku mengalir semakin cepat, mukaku semakin panas, dadaku semakin sesak. Buku sialan! Aku marah karena buku ini semakin kupandang tak berguna. Aku mulai menangis hebat dan melempar bukuku ke ujung ruangan sekencang-kencangnya. 

Aku, aku tidak mau menulis jika hanya berandai untuk hujan membawamu kembali, angin membisikkan rindu, atau mentari membawa kabar gembira hari ini. Aku, aku tidak mau berandai, karena yang aku mau kamu benar nyata di sini, bersamaku. Bukan terbaring di bawah sana, menunggu air hujan ini mengalirimu dari celah-celah tanah yang menutup ragamu. Aku mau kamu!

 

Baca juga:

Yang Perlu Kamu Tahu Tentang Ritual dan Rutinitas

Tentang Pertemuan dan Sebuah Merelakan