Tingkah Lucu Manusia

Kadang murung, kadang riang
Kadang senang, kasang gusar
Tak tertebak, bagai aksi panggung pesulap terkenal
Mudah muncul, mudah hilang

Dikasih ringan, ingin yang lebih berat
Dikasih berat, malah mengeluh dan menghujat
Dikasih mudah, bilangnya kurang menantang
Dikasih tantangan, malah memaki semesta dianggap tak berpihak

Lucu memang tingkah manusia
Tak bisa bersyukur secara konstan
Senangnya di awal, lalu basi termakan waktu
Layaknya sirop yang manisnya ditenggelamkan cairan es batu

“Rasanya pengen jadi pohon saja”, teriak remaja berumur 30 tahun di ibu kota
Di saat cicilan dan tagihan mulai menerjang rekening di akhir bulan
Serasa gaji dan bonus lenyap begitu saja

Tapi memang benar, menajdi pohon sepertinya lebih menyenangkan
Hanya berdiri dan tak perlu memikirkan perjodohan

Lucu memang tingkah manusia,
Semoga pohon tak pernah berharap menjadi salah satunya

Ori, Sel Timur Ujung | Part. 1

Rambutnya masih tetap terlihat patuh, berjuntai menutupi leher hingga bahu. Hari ini tanpa jepitan hitam seukuran lidi daun kelapa, tanpa karet gelang bekas bungkus sarapan pagi mewah para napi; nasi uduk porsi irit dengan potongan tahu goreng dan sambal teri. Lingkar matanya tidak sehitam berbulan-bulan yang lalu. Pipinya sekarang lebih merona meskipun sisa bekas jerawat masih menghiasi wajah oval itu.  Ori mulai terlihat jauh lebih ‘Ori’ semenjak toko pernak-pernik handmade nya dibuka. Meskipun sekali dua atau tiga malam tidak jarang Uri mendengar isak kakaknya itu pecah di dalam kamarnya yang menyudut. Isak pilu yang membuatnya ikut merasa biru. Isak sepotong jantung yang masih belum sanggup mendalami ilmu ikhlas tentang cinta yang berpulang tiba-tiba.

Ori baru saja menghirup udara bebas setahun yang lalu setelah nyaris lima tahun hidup ‘dikandangi’ dan tidak ada cerita yang bisa diceritakan dengan mudah semenjak pertama polisi menjemputnya di rumah Angku setelah membongkar jok mobilnya yang menyimpan bungkusan sabu. Meskipun siang mengejutkan itu dilewati dengan senyum dingin di sudut bibirnya, Uri tetap paham bahwa banyak goresan berat yang sedang ditanggung kakaknya.

“Aku tidak mau lagi kau pulang ke rumah ini!” teriak Angku ke wajah Ori waktu itu. Sekali lagi, hanya senyum kaku dengan lengkungan dingin yang muncul di wajahnya.

Setahun pertama Ori hanya mau bertemu dengan Uri jika ada yang berkunjung. Wajahnya banyak berubah. Lebih tirus, pucat, kantung mata membesar, lingkar hitam yang semakin kental, bibir kering yang tidak lagi pernah terlihat melengkung dan rambut yang selalu diikat dengan karet gelang berwarna merah bekas bungkus nasi uduk. Uri selalu menangis setiap kali melihat kuku cantik kakaknya yang terlihat kusam dan tidak terawat sejak menjadi tahanan.

“Aku baik saja,” kata Ori setiap kali Uri terisak melihat kondisinya.

Awal tahun kedua menjadi tahanan di lapas khusus perempuan, Ori mulai menyibukan diri dengan rutinitas harian. Jika tidak sedang berminat jogging keliling lapangan, Ori pasti terlihat duduk menyudut di lapangan voli dengan buku lusuh di tangannya. Buku yang dipinjami Faron, sipir muda yang tidak pernah bersikap kasar padanya sedari awal. Ketika hari sedang hujan, Ori akan lebih banyak menghabiskan waktu di dapur membantu tim konsumsi mengupas bawang. Hingga suatu hari, Dara ditransfer dari lapas pulau seberang untuk menghabiskan sisa masa hukumannya di tempat Ori dan tiga ratus perempuan lainnya mendekam.

Dara terlihat ramah dengan mata riangnya. Dara selalu tersenyum selepas jadwal senam bersama di pagi hari dan merajut sepanjang hari. Sekali waktu Dara dengan benang dan gulungan selimut yang belum jadi menghampiri Ori yang duduk dengan buku Maya Angelou di tangannya.

“Tahun ke berapa?” tanya Dara tanpa permisi.

“Kedua,” jawab Ori dingin dengan mata tidak lepas dari halaman ke seratus lima belas.

“Sabu?” tanya Dara lagi. Ori mengangguk.

“Aku tujuh tahun lagi.” Dara mulai menyambung benang dengan ujung benang lainnya kemudian mulai menyambung rajutan selimut dengan warna olive green-nya. “Married?” tanya Dara lagi. Ori menggeleng.

“Belum,” jawabnya masih dengan wajah cuek dan sangat merasa terganggu dengan kehadiran Dara yang banyak tanya. Belum dan bukan urusanmu, sengit Ori membatin.  

“Namaku Dara,” ucap Dara tanpa merasa perlu mengulurkan tangannya untuk berkenalan.

“Ori,” sahut Ori dingin.

Keduanya kemudian saling diam dan sibuk dengan benda di tangan masing-masing. sesekali Ori melirik selimut setengah jadi yang sedang dirajut Dara. Rapi, pikirnya. Sesekali juga, Dara mengintip halaman yang sedang dibaca Ori kemudian manggut-manggut sambil berdecak mencoba mengingat sesuatu.

“Hoping for the best, prepared for the worst, and unsurprised by anything in between,” ucap Dara pelan. Ori menoleh, memandang wajah Dara yang dibedaki bedak tabur.

“Sorry?” tanya Ori.

“Maya Angelou.” Dara menjawab lalu melipat selimut yang sedang ditekuni nya dan memandang buku di tangan Ori. “I know Why The Caged Bird Sings. Aku baca ini pas kuliah,” tambahnya.

Ori melipat ujung halaman 116 dan menutup bukunya.

“Lalu?” tanya Ori dengan nada dingin.

“First, aku memang baca bukunya. And I like it. Kedua, ini caraku membuka pembicaraan denganmu. Menurutku banyak orang pakai cara seperti ini untuk memulai pembicaraan dengan orang asing yang menurutnya menarik,” jelas Dara sambil tersenyum.

Tanpa dipinta pipi Ori yang selalu terlihat pucat terasa ‘berdarah’. Hangat. Namun mulutnya terkunci untuk merespon kalimat tidak terduga yang didengarnya siang ini.

“Kamarku di ujung lorong timur. Hanum dan satu sipir sering duduk di sana menunggu aku selesai membuatkan mereka sweater atau selimut untuk kucingnya. Mampir kapan-kapan,” tambah Dara sambil berdiri dan meninggalkan Ori yang masih terdiam. Alih-alih kembali membuka Maya Angelou-nya, Ori justru memperhatikan punggung Dara hingga hilang di balik pagar kawat yang ditunggui dua sipir perempuan dengan wajah kasar.

 

“Kak!” Uri setengah berteriak memanggil Ori yang mematung di depan gantungan tas rajutan.

“Ya.” Ori buru-buru menghapus genangan air yang menjuntai di ujung matanya.

“Ada yang datang.” Uri membukakan pintu mempersilahkan seseorang masuk ke toko pernak-pernik kakaknya.

“Ori,” panggil perempuan dengan rambut sebahu dan toned arms yang menawan. Ori tersentak dan berjalan cepat mendekat.

“Faron,” sapanya sambil memeluk erat tubuh ideal sipir kesayangannya selama menjadi tahanan. “I miss you,” bisiknya di balik bahu Faron yang menepuk-nepuk pundak Ori pelan sambil menahan genangan air mata.

“Kau lebih berisi dan sehat,” puji Faron setelah melepas pelukan dan memandang Ori lama. Ori mengangguk sambil mengusap pipi dengan sisa air matanya. “Lapas terasa berbeda sejak kamu keluar Ri,” tambah Faron lalu duduk di sebelah Uri yang baru saja masuk menaruh tiga cangkir dan satu teko berisi teh tanpa gula.

“Hidupku juga jauh berbeda sejak keluar,” sahut Ori dengan mata berlinang.

“Sudah lah. Sekarang kau sedang menjalani hidup barumu. Yang di belakang biarkan di belakang.” Faron menyesap teh yang dituang Uri. “Aku bawa sesuatu untukmu.” Faron mengaduk isi tasnya sebelum mengeluarkan sebuah buku tulis yang terlihat keriting dan menyodorkannya pada Ori.

“Apa ini?” tanya Ori dengan perasaan tidak karuan.

“Isi sel Dara yang ditahan untuk barang bukti sudah dikembalikan. Aku ambil ini karena menurutku kau butuh sesuatu seperti ini,” jawab Faron berusaha tenang. “Baca setelah kau kuat untuk benar-benar merelakan ya,” tambahnya lalu berdiri dan memeluk Ori singkat.

1.30 | eps.2

Beberapa hari berlalu, aku yang pengecut hanya memandang Della dari jauh. Semenjak hari itu aku sering berpapasan dengannya, dan kami hanya saling senyum tanpa tegur sapa. Bon Cabe yang terasa manis itu kini semakin menunjukan pedasnya. Sepertinya aku bukan orang yang tepat untuknya, untuk apa aku mencoba?

“Hey Rel, sendiri aja?” Tiba-tiba kau mengejutkan lamunanku. Paras ayu, bibir mungil dengan senyum mempesona itu tiba-tiba menaruh piring makan siangnya di depanku.

“Eh Del, kok tumben enggak gabung sama mereka?” tanyaku mencoba biasa saja sambil melirik ke arah meja tempat Syahrul duduk bersama teman-temannya.

“Iya, lagi penuh di sana terus aku ngalah aja. Enggak apa-apa kan aku di sini?” tanyanya sambil duduk persis di depanku.

“Iya enggak apa-apa.” Jawabku singkat dan kembali menyuapi diriku sendiri dengan gado-gado tambah telur dadar ala Ibu Minah.

Kami berbincang, dia yang memulai. Dia bertanya apa aku punya akun kosong di Netflix dan kebetulan aku memang sedang mencari seseorang untuk join akunku yang kosong satu. Kami banyak bercerita tentang film-film favorit kita. Tidak sama memang, dia lebih suka film-film aksi atau biografi, sedangkan aku lebih suka drama keluarga atau fiksi. Namun, ada satu hal yang membuat pikiran kita sejalan, kita sama-sama membenci genre romance-comedy.

Kami tertawa terbahak-bahak sampai aku kadang sadar beberapa pegawai lain memperhatikan. Kami bercerita bagaimana kami bisa saja tertidur di bioskop karena film rom-com yang pasangan kami minta untuk tonton. Bagaimana kami belum pernah selesai menonton film Titanic atau Ada Apa Dengan Cinta karena tertidur sebelum pertengahan dan akhirnya menyerah. Seakan semesta memberi restunya, kami semakin dekat dan mulai terbuka tentang satu sama lain di 40 menit ini.

Sayang 2.30 sudah datang, kami harus segera bergegas pergi ke meja kerja masing-masing.

“Eh Rel, minta nomor lu dong. Nanti sekalian kirimin email sama password dan nomor rekening ya?” Kuberikan nomorku sambil gemetar. Dia melihatnya kurasa. Getaran gugup itu.

Di meja kerja aku masih terlalu gugup. Tak mengganggu kerjaku, malah lebih membuatku produktif hari itu. Aku menyelesaikan targetku secepat mungkin untuk bersantai di jam-jam sebelum sebelum pulang.

“Eh kok bengong mulu lu? Enggak mau siap-siap pulang?” Buya, teman sebelahku menyadarkan lamunanku.

“Oh iya, yuk.” Jawabku singkat.

“Lu lagi kenapa dah? Betewe lu jadi ikut acara lari bareng enggak di GBK?” tanya Buya sambil membereskan mejanya.

“Iya jadi.” Jawabku tanpa merubah pandanganku dari meja kerja.

“Oke, gue tunggu di bawah ya. Nanti kita berangkat bareng yang lain juga.” Aku menoleh ke arahnya, tersenyum dan mengangguk setuju.

Kami berangkat menggunakan mobil Buya. Sesampainya di GBK, kami langsung pergi ke arah tengah untuk bertemu dengan teman-teman yang lain. Aku terkejut karena di sana ternyata ada Syarul, Della dan lain-lain. Aku gugup tapi senang, aku senang tapi gugup. Entah apa yang sedang mengusikku. Cintakah, atau hanya obsesi semata?

Aku tersenyum ke arah teman-teman yang sudah mulai berkumpul dan melakukan peregangan. Kami berlari tak lama kemudian. Aku mencoba menyeimbangkan lariku dengan Della sehingga kita sejajar. Dia sadar dan mulai menurunkan satu airpods miliknya.

“Mau barengan?” dia menyodorkan airpods-nya kepadaku.

“Boleh,” jawabku.

Kami pun dia dalam belaian lagu sambil berlari kecil mengejar peluh.

Semesta, apa yang sedang kau coba sampaikan? Manusia dengan paras ayu, bibir mungil dan senyum mempesona inikah yang harus aku puja? Atau obsesi ini harus aku kubur dengan alasan berbakti kepada orang tua? Semesta, semoga cepat kau sampaikan jawabmu pada waktu

Kelana; Mesin Air Layan Diri | part. 2

Langit sedang sedikit mendung ketika aku menulis ini. Sejurnya dari pagi pun langit sudah seperti ini. Dan aku tidak sabar menunggu hujan turun padahal tadinya aku tidak suka dengan hujan. Tapi jenis ketidak sukaanku pada hujan bukan dengan hujannya, aku hanya tidak suka hujan ketika aku harus bepergian jadi hujan membuat langkahku sedikit terhambat. Sementara memperhatikan rintiknya dari dalam rumah, aku jelas suka sekali.

 

Dulu pertama kali aku menginjakkan kaki di Kuala Lumpur untuk berlibur, hal pertama yang aku perhatikan selain jalanan adalah hujannya yang terlihat begitu ‘mendalam’. Aku juga bingung harus menjelaskan kata ‘mendalam’ tadi seperti apa. Tapi yang jelas, setiap hujan turun di sini aku masih saja terkagum-kagum dengan langit dan segala hal di luar jendela yang mendadak terlihat putih seolah dipenuhi embun pagi. Belum lagi rintik rapatnya yang turun tergesa-gesa dan membuat jalanan terlihat semakin cantik. Ketika malam, pemandangan di luar jendela akan menjadi pemandangan favoritku karena pantulan lampu kendaraan dan lampu jalan memberi warna pada si aspal hitam sebab permukaan mereka sedang basah oleh genangan air hujan.

 

Bicara Soal Air

Bicara soal hujan tidak jauh dari pembahasan soal rintik dan rintik adalah wujud paling menarik dari elemen bernama air. Bicara soal air, pikiranku langsung mengarah pada pembahasan mengenai air minum. Dan membahas soal air minum, aku begitu takjub dengan akses air minum di sini.

Mungkin aku hanya terlalu norak atau tidak pernah melihat hal-hal seperti ini sebelumnya tapi yang aku tahu, ada banyak hal yang terkelola dan terencana dengan baik di sini. Tentang air minum ini contohnya.

Jika banyak orang sudah menggunakan water filter atau air keran yang langsung bisa di minum di rumahnya, aku dan housemate-ku lebih memilih untuk mengisi galon air minum kami di mesin drinking water yang berdiri apik di setiap sudut di sekitar kawasan perumahan. Selain dengan alasan berhemat, kami sengaja mengisi galon di mesin yang berada tidak jauh dari rumah dengan alasan biar setidaknya kami ‘bergerak’ sebagai pengganti olahraga.

 

water vending machine

 

Mesin Air Layan Diri

Alias water vending machine adalah mesin penyaring air yang dikeluarkan oleh produsen RO water filter dan dapat dimiliki oleh pihak swasta. Mesin-mesin ini kemudian ditempatkan di titik-titik yang dekat dengan kawasan perumahan.

Mesin air ini mengeluarkan air yang siap minum hanya dengan menggunakan uang koin dengan nilai 10-50 sen. Untuk satu galon dengan kapasitas 6 liter kita hanya perlu memasukkan koin dengan nilai 60 sen. Sementara harga rata-rata air minum dengan ukuran 6 liter  yang di jual di berbagai super market dan groceries store adalah RM 7-8. Bayangkan selisih harga yang bisa kita sisihkan dari hal se-mendasar air minum.

 

pencet sendiri, isi sendiri

 

Tidak jauh dari bangunan tempat aku tinggal ada satu mesin air yang terdekat dan menjadi langganan kami untuk mengisi ulang galon setiap 1-2 minggu sekali. Dengan posisi sumber air minum yang tidak terlalu jauh itu dan harga yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan air minum dengan kualitas yang sebagus itu maka tidak ada alasan lain untuk tidak memanfaatkan fasilitas semurah dan memudahkan ini.

Dari mesin air ini aku belajar bahwa ternyata ada cara tersirat untuk menghimpun uang koin yang kebanyakan menjadi uang yang terabaikan. Penggunaan mesin air setidaknya mendorong orang-orang untuk lebih menghargai keberadaan uang koin dan memanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan sepenting air minum.

Di samping itu, aku semakin paham, bahwa uang sebanyak apapun kalau dihabiskan dengan gaya hidup yang membutuhkan banyak biaya tidak akan terasa cukup. Jadi bisa dibayangkan betapa gaji yang berkisar di atas rata-rata akan terasa sangat besar jika dihabiskan dengan gaya hidup yang bergantung pada ‘mesin air layan diri’.

 

Sampai jumpa di Kelana part 3

 

 

Dialog Hujan, Kau dan Aku

Rinai turun, lebih dari sekali dalam selusin jam ketika matahari sedang membasuh gelap dari ujung ke ujung langit. Bukan, bukan hanya sekedar rinai. Hujan. Yak. Hujan. Dan hujan tidak pernah akur denganku. Tidak pernah akur dengan situasi dan kebutuhanku.

Seringkali hujan turun ketika aku sedang butuh kemana-mana. Dan ketika aku sedang butuh hujan turun sebab aku sedang tidak ingin kemana-mana, berbulan-bulan hujan enggan membasahi tanah di sini.

Bagiku ada lusinan jenis perasaan yang datang ketika butiran halus yang membuat basah itu turun. Kadang hujan turun dan membuatku gelisah dengan berbagai bentuk bingung. Di lain waktu, hujan membuat atap seng terdengar begitu riuh dan memancing lusinan pertanyaan yang tidak pernah bisa aku jawab sendiri. Namun apapun itu, hujan tidak terlalu terdengar menarik bagiku.

Hari ini ada yang berbeda dari butiran hujan yang kuperhatikan meluncur dari ujung atap genteng di sudut coffe shop mungil bernuansa rotan ini. Hari ini, hujan turun dan untuk pertama kalinya aku paham betapa rintiknya begitu apik. Betapa setiap percikannya yang usil menyentuh kulitku ini bisa mengirim pesan bahwa hujan, memang secantik itu.

Bicara soal hujan, entah bagaimana berbagai wise thoughts datang tiba-tiba hari ini di bawah warna mendung langit Bogor. Hanya saja kali ini semua pemikiran dan ide itu muncul dengan tema yang sama dan disebabkan oleh alasan yang sama; hujan sedang turun di saat bersamaan di dua tanah yang berseberangan sementara diantaranya ada dua anak manusia sedang saling berdebar mengenang kehadiran masing-masing.

Hujan, I’m in love.

I’m so in love.

Dan hujan, ini hanya sebuah prolog dari lusinan chapter yang ingin kujalani dengan tekun.

 

Cerita Dari Kereta Menoreh

Aku tidak pernah suka dengan perjalanan panjang yang menghabiskan waktu lebih dari dua jam. Entah karena lelahnya, atau karena bosannya menghadapi rute panjang tanpa tau bagaimana  menghabiskan ratusan menit sendirian.

Deretan lagu pilihan rombongan Luke Bryan, Carrie Underwood dan Lady Antebellum biasanya tidak pernah luput menemani telingaku sepanjang perjalanan. Kali ini, tanpa alasan yang jelas lagu-lagu mereka tidak terlalu membantu selama aku harus duduk tegak di deretan bangku-bangku tidak nyaman dengan rute lurus yang sangat membosankan. Empat jam lebih di kereta kembali ke Jakarta dari Tegal membuatku benar-benar merasa bosan. Playlist di Spotify hanya sanggup membuatku betah di 30 menit pertama. Sisanya, perjalananku terasa melelahkan.

Sebagai manusia yang hidup lama di daratan Sumatera, aku belum terlalu akrab dengan hamparan tanah Jawa. Menginjakkan kaki di Tegal pun baru kali pertama. Terlepas dari perjalanan ke sana sebagai bagian dari tugas, aku memiliki misi lain; menguji jika aku tidak akan diserang rindu.

Rindu? Dengan siapa lagi seorang Suci kembali termakan rindu? Siapa lagi orang ini?

Entahlah. Menjawab pertanyaan ini seolah terlalu berat hari ini. Yang jelas, ketika untuk pertamakalinya aku melihat sebiru apa laut Jawa, masih ada satu nama yang usil sekali mondar-mandir dalam kepalaku. Ketika untuk pertamakalinya rambutku diterbangkan angin pantai utara, nama itu yang secara tidak sengaja kulafalkan berkali-kali. Hingga lahir puisi tentang orang ini sesaat sebelum aku tertidur di Tegal malam yang sepi.

‘Ah ini hanya persoalan mindset’ pikirku. Berharap di perjalanan pulang aku bisa kembali duduk tenang sambil memandang keluar jendela dan mendengarkan  Love Was My Alibi nya Kristoffer Fogelmark atau membaca The Subtle Art Of Not Giving A Fck nya Mark Manson.

I was totally wrong.

Pertama, duduk di deretan bangku yang merasakan sensasi kereta mundur sudah cukup membuatku kesal.

Kedua, my seat was taken by someone who don’t want to give it to me dengan alasan ‘Maaf mba, saya ga betah duduk di sebelah situ. Mba lihat aja sendiri di sebelahnya ada apa.’ Maka serta merta aku melirik ada apa di bangku sebelah. And waw, I saw a lesbian couple kissing, a Korean, or a Chinese or a Singapore girls sharing a kiss to each other.

Bodohnya, mereka tanggap dengan lirikan penuh selidik ku itu dan tersenyum. Aku tersenyum balik dan sekilas melihat botol air mineral di depannya dengan nama hotel tempat aku tidur semalam. Kebetulan yang tidak disengaja, aku juga sedang memegang botol air mineral dengan nama hotel yang sama.

Berhubung si ibu yang ngambil seat saya itu terlihat sangat tidak nyaman dengan suasana barisan bangku sebelah itu, aku mengalah. Mulai menyumbat telinga dengan earphone butek dan membaca ebooknya Mark Manson dari halaman pertama.

Tiga puluh menit pertama. Jumawa. Setengah jam berikutnya ketiduran lalu tiba-tiba kebangun karena suara penumpang (maaf) penderita autisme yang teriak-teriak minta turun karena (again, maaf) muntah.

The next minutes feels so hard. Nyonya di sebelah ngorok, pasangan cakep di sebelah makin asik saling senderan. Lalu pemikiran Mark Manson kembali menarik untuk dilanjutkan hingga sampai ke sebuah kalimat yang bilang,

“You and everyone you know are going to be dead soon. And in the short amount of time between here and there, you have a limited amount of fucks to give. Very few, in fact. And if you go around giving a fuck about everything and everyone without conscious thought or choice – well, you’re going to get fucked”

Aku terdiam. Mencerna kalimat itu dalam. Menimbang did I gave my fuck to something that this Manson guy said fuckworthy?

Semakin kata ‘fuckworthy’ ini dicerna, semakin aku memikirkan kalimat yang ujung-ujungnya mengingatkanku pada sosok yang aroma parfumnya dibawa-bawa oleh angin dari pantai utara. Why? Karna orang ini begitu fuckworthy.

Tiba-tiba entah bagaimana aku menoleh pada sepasang wanita yang berasa sedang di kamar sendiri ini.

“Hey, have you ever heard the word ‘fuckworthy’?” doi bingung sebentar terus ngeluarin buku dari ranselnya. The Subtle Art of Not Giving A Fck. Waw, sekali lagi sebuah kebetulan yang tidak disengaja.

“I’ve read the book” jawabnya sambil tersenyum. Spontan aku memperlihatkan versi ebook yang sedang aku baca di hp.

“What about that?” tanyanya.

“Nothing. I think this word sounds cool. Maybe I can change the way I say ‘I care about you’ with ‘you’re fuckworthy to me’” jawabku sedikit ngasal. Keduanya tertawa lalu aku kembali ke posisi semula.

Akhirnya perjalanan dengan kereta Menoreh kembali ke Jakarta yang ternyata kurang dari 4 jam itu berlalu dengan aku yang tertidur, bangun, tidur bangun. Tidak terasa meskipun membosankan. But at least I’ve learn something.

Belajar bahwa ada hal yang perlu diacuhkan, dan ada hal yang perlu dirisaukan. Belajar bahwa ada cerita yang perlu diceritakan, dan ada cerita yang hanya boleh disimpan sendiri. Belajar bahwa ada perasaan yang hanya milik berdua, dan ada yang tidak bisa ditahan untuk dipertunjukan. Belajar bahwa ada kebetulan yang memiliki makna, dan ada kebetulan yang hanya datang sebagai tambahan bahan cerita. Dan belajar bahwa rindu yang belum tersampaikan akan mengikuti kakiku meskipun jejaknya disamarkan rel kereta di pulau Jawa.

Moral lesson: just because they're lesbian, they are Chinese, they're black or white, they're gay or bisexual, they have a different hair color with you, doesn’t mean you can’t share a little fun somehow somewhere. Of course you can ‘not giving a fuck’ but you can’t act fuck.  Just be nice to one another!

Another lesson: rindu tidak akan pergi sebelum ceritanya sampai ke tempatmu menitipkan hati.